Deskripsi Program

eTahfizh

Ekselensia Tahfizh School (eTahfizh) merupakan program investasi SDM yang berfokus pada tahfidz-plus, yang diperuntukkan bagi anak-anak pilihan lulusan SMP/MTs/sederajat yang memiliki kemampuan akademik tinggi namun memiliki keterbatasan finansial.

Visi eTahfizh

“Melahirkan Hafizh Qur’an yang ‘Alim dan Berjiwa Pemimpin”

Misi eTahfizh

  • Menyelenggarakan model pendidikan non formal berkualitas berbasis Al-Qur’an.
  • Melahirkan generasi Hamalatul Qur’an.
  • Melahirkan generasi yang memiliki jiwa kepemimpinan diri dan sosial.
  • Menjadi laboratorium pendidikan Al-Qur’an dan kepemimpinan.
  • Memelopori gerakan dakwah Al-Qur’an.

Latar Belakang

Beberapa tahun terakhir ini ada gejala dan perkembangan menarik di dunia pendidikan, yaitu bermunculannya sekolah nonformal berbasiskan tradisi keilmuan Islam. Model sekolah ini menjadi model pendidikan alternatif yang kini tengah berkembang dan mulai menjamur di tanah air. Sebagai contoh, sebut saja Kuttab. Model pendidikan dasar Islam ini ternyata sangat diminati masyarakat.

Ada kesadaran dari masyarakat bahwa pendidikan bukan sekadar selembar ijazah formal, melainkan mendidik manusia secara sejati. Bukan lagi aspek akademik semata yang menjadi orientasi para orangtua dalam memilih sekolah, melainkan telah bergeser secara signifikan pada aspek penanaman iman dan pembentukan adab. Fakta yang mengejutkan, ternyata pada aspek akademik pun model sekolah nonformal ini mampu bersaing dengan sekolah formal. Adapun untuk aspek legalitas ijazah, sekolah nonformal ini membekali murid-muridnya dengan ijazah paket A, B, atau C sesuai jenjang pendidikan.

Undang-undang Sisdiknas No. 20 tahun 2003 mengakui legalitas ijazah paket A, B, C sebagai ijazah yang disamakan dengan ijazah sekolah formal. Kebijakan ini memberikan jaminan bahwa lulusan sekolah nonformal tetap bisa melanjutkan ke perguruan tinggi negeri dan luar negeri sekalipun. Maka, dengan segala kelebihan yang dimiliki, model pendidikan nonformal berbasis Islam ini menjadi pilihan menarik bagi para orangtua untuk menyekolahkan anak-anaknya.

Jika model sekolah nonformal ini semakin berkembang dan para orangtua pun semakin melek pendidikan, maka kita patut bertanya masih punya masa depankah sekolah formal konvensional? Para ahli pendidikan di Jerman dan Prancis misalnya, tidak lagi sekadar mempertanyakan sekolah seperti apa yang kita butuhkan pada masa depan? Tetapi, telah sampai pada pertanyaan yang lebih mendasar, yaitu masih punya masa depankah sekolah?

Gagasan gila pada awal tahun 70-an tentang Deschooling Society-nya Ivan Illich atau School is Dead-nya Everett Reimer boleh jadi menemukan aktualisasinya kembali akhir-akhir ini. Apalagi bila kita mengaitkan hal ini dengan pendapat Nicholas Nigroponte, dalam bukunya Being Digital, yang tidak ragu mengatakan bahwa sekolah akan menjadi museum. Lebih menarik lagi bila The End of Education-nya Neil Postman ikut kita jadikan masukan.

Kita bertanya, apa sebenarnya yang menjadikan sekolah formal konvensional diramalkan tidak akan laku, bahkan bisa jadi dipaksa menggali kuburannya sendiri? Salah satu poin mendasar yang bisa kita diskusikan adalah aspek kurikulum. Kurikulum sekolah formal konvensional memiliki dua kelemahan, yaitu 1) Terlalu gemuk muatannya, 2) Tidak sesuai urutan belajar. Mari kita bahas satu persatu.

Jika kita perhatikan muatan kurikulum sekolah formal konvensional, maka kita akan mendapati kurikulum yang gemuk dan padat. Ironisnya, banyak muatan kurikulum yang mubazir dan diulang-ulang. Ini menjadi dilema bagi sekolah formal untuk menambahkan muatan kurikulum kekhasan sekolah. Satu sisi jika kurikulum nasional saja sudah demikian gemuk dan padat, terlebih lagi jika ditambah dengan muatan kurikulum kekhasan sekolah. Namun, sisi lain jika tidak menambahkan kurikulum kekhasan sekolah, maka sekolah mereka tidak memiliki diferensiasi dan daya saing.

Akibatnya, yang terjadi adalah murid-murid dijejali berbagai macam pengetahuan demi mengejar ketuntasan materi pembelajaran kurikulum nasional dan kurikulum kekhasan sekolah. Guru pun tidak begitu peduli apakah murid-muridnya memahami seutuhnya atau hanya sebagiannya. Akhirnya, idealisme kurikulum 2013 yang menekankan aspek sikap spiritual dan sosial tidak tercapai. Guru kembali terjebak mengejar aspek pengetahuan demi mengejar ketuntasan materi pembelajaran.

Poin selanjutnya, materi ajar pada kurikulum sekolah formal tidak sesuai urutan belajar. Pertama-tama yang perlu ditanamkan dan diajarkan kepada anak-anak adalah iman dan adab, bukan seabrek pengetahuan yang semestinya nanti diajarkannya sesuai  tahapan dan jenjang usia anak. Lihat saja anak usia SD sekarang mereka dijejali dengan berbagai pengetahuan, padahal iman saja belum terinternalisasi. Adab saja belum terbentuk.

Mari kita berbicara lebih spesifik pada level pendidikan menengah. Perhatikan kualifikasi lulusan SMA sekolah-sekolah formal? Dari aspek ilmu pengetahuan mungkin masih cukup menggembirakan. Namun, perhatikan dari aspek keimanan, adab, dan kepemimpinan. Sekolah-sekolah kita masih tertatih-tatih untuk menjawabnya. Akibatnya, negeri ini mengalami krisis kepemimpinan dan moral. Terlebih pemimpin yang kokoh iman dan adabnya.

Masa SMA yang hanya tiga tahun dengan muatan kurikulum kedinasan yang gemuk dan padat menyulitkan sekolah untuk mengembangkan kurikulum kekhasan. Belum lagi target UN (Ujian Nasional) dan PTN yang tidak jarang menjadikan sekolah menomorsekiankan aspek iman, adab, dan kepemimpinan. Akibatnya, sekolah terjebak pada pencapaian aspek akademik semata. Bisa dibayangkan rentetan efek dominonya. Makna pendidikan telah terkaburkan semakin jauh.

Karena itu, inovasi model pendidikan yang mampu melahirkan generasi rahilah (generasi yang mampu mengemban amanah kepemimpinan dan menghadirkan perubahan menuju tatanan yang tamadun) adalah sebuah kebutusan mendesak. Pertanyaannya, seperti apa model pendidikan tersebut? Dalam hal ini, pilihan terbaik adalah dengan berkaca pada masa terbaik yang menghasilkan generasi terbaik, yaitu masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika mendidik para sahabat.

Imam Malik rahimahullah pernah mengatakan, “Umat generasi masa kini tidak akan bisa diperbaiki kecuali dengan cara bagaimana umat generasi awal diperbaiki.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendidik umat di Darul Arqam, sebuah rumah sederhana yang dijadikan markas pendidikan umat. Di sinilah Rasulullah mendidik para sahabat dengan kurikulum Al-Qur’an. Hasilnya? Lahirnya sebuah generasi terbaik yang kemudian mampu mengukir peradaban gemilang. Rasulullah sendiri yang memberikan jaminannya, “Khairul qurun qarniy,” sebaik-baik generasi adalah generasiku (para sahabat).

Ketika konsep Madrasah Darul Arqam ini kita replikasi, maka insya Allah akan mampu melahirkan generasi terbaik pembangun peradaban. Bukan hanya pada skala lokal, regional, ataupun nasional, melainkan juga dalam skala global. Untuk itulah, kehadiran program Ekselensia Tahfizh School merupakan sebuah ikhtiar mereplikasi Madrasah Darul Arqam untuk menjawab kebutuhan melahirkan generasi rahilah.

Ekselensia Tahfizh School (ETS) ditargetkan mampu memainkan peran penting untuk melahirkan lulusan setingkat SMA yang hafizh Al-Qur’an dan kompeten dalam ilmu-ilmu keislaman serta kepemimpinan. Lulusan ETS insya Allah akan mampu menjadi aktor perubahan bangsa menuju tatanan peradaban masa depan yang tamadun dalam bingkai Al-Qur’an.

Mimpi besar dan visi ETS adalah mengembangkan 100 ETS di 100 kota di 5 benua, menginisiasi gerakan meng-Al-Qur’an-kan nusantara dan dunia, dan menjadikan Al-Qur’an sebagai spirit dan benchmark dalam membangun tatanan peradaban bangsa dan dunia. Karena, agenda kita bersama adalah membangun peradaban, bukan mengekor peradaban.

Tujuan Program

Program Ekselensia Tahfizh School (ETS) bertujuan melahirkan generasi yang hafizh Al-Qur’an dan kompeten dalam ilmu-ilmu keislaman serta kepemimpinan. Dengan tagline, “Melahirkan generasi hafizh A-Qur’an pemimpin peradaban.”

Karenanya, standar kompetensi lulusan ETS sebagai berikut: 1) Hafal Al-Qur’an 30 juz dan menjiwainya. 2) Memahami Dirasah Islamiyah dengan baik. 3) Fasih dalam Bahasa Arab dan Inggris lisan dan tulisan. 4) Unggul dalam kepemimpinan. 5) Memiliki wawasan dan kerangka berpikir yang luas.