Jadilah “Kutrubul Lail”

Jadilah “Kutrubul Lail”

Seorang santri memiliki kebiasaan unik, yaitu sebelum waktu shalat subuh tiba, ia sudah nongkrong di depan pintu rumah gurunya, Imam Sibawaih, ulama pakar ilmu Nahwu dan Bahasa Arab. Ia lakukan kebiasaan unik ini setiap hari. Tanpa pernah alpa kecuali sakit. Pertanyaannya, ngapain santri tersebut sudah nongkrong di depan pintu rumah gurunya setiap dini hari sebelum subuh? Ternyata, santri ini merasa belum cukup belajar kepada gurunya dalam forum-forum halaqah. Ia merasa mesti “mencuri” waktu gurunya untuk mengunduh ilmu lebih banyak.

Santri ini berpikir waktu yang tepat adalah perjalanan dari rumah sang guru ke masjid. Rupanya jarak dari rumah Imam Sibawaih ke masjid cukup jauh. Limit waktu antara rumah ke masjid inilah yang ingin dimanfaatkan santri ini untuk mengunduh ilmu gurunya. Karena itulah, sebelum subuh tiba, santri ini sudah nongkrong di depan pintu rumah gurunya. Karena, gurunya berangkat ke masjid sebelum waktu subuh tiba.

Karena kebiasaan keluar malamnya inilah, santri ini dijuluki oleh gurunya, “kutrubul lail” (binatang malam). Namun, tentu saja istilah ini dimaksudkan dalam konteks positif. Yakni, masih gelap malam, tapi sudah keluyuran ke rumah gurunya untuk mengunduh ilmu lebih banyak dari gurunya. Inilah bukti kesungguhan dan kecintaannya kepada ilmu. Sampai-sampai santri ini berpikir mesti “mencuri” waktu gurunya. Selama perjalanan dari rumah ke masjid, ia manfaatkan untuk banyak bertanya seputar ilmu. Santri ini adalah Imam Abu Ali Muhammad, seorang ulama pakar bahasa Arab.
٭٭٭

Setelah keikhlasan niat dalam menuntut ilmu, maka adab para penuntut ilmu selanjutnya adalah bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu. Going the extra mile. Melakukan lebih daripada para pelajar umumnya lakukan. Melawan rasa malas, bosan, dan jenuh untuk terus bersentuhan dengan ilmu. Yang pada akhirnya menumbuhkan kecintaan kepada ilmu.

Kesungguhan adalah salah satu syarat utama keberhasilan dalam belajar atau menuntut ilmu. Seringkali kesungguhan lebih berperan daripada kecerdasan. Banyak pelajar dengan kecerdasan rata-rata, namun bisa melampaui pelajar dengan kecerdasan di atas rata-rata karena kesungguhan belajar yang luar biasa. Berlelah-lelah dalam menuntut ilmu, inilah yang sangat bernilai di sisi Allah. Dan, inilah sebab turunnya hidayah ilmu.

Ketahuilah, Allah mensyaratkan turunnya hidayah ilmu dengan adanya kesungguhan. Al-Qur’an menerangkan, “Dan orang-orang yang berjihad (bersungguh-sungguh) untuk (mencari keridhaan) Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Ankabut [29]: 69).

Inilah yang diteladankan oleh para ulama terdahulu. Saksamailah bagaimana kesungguhan para ulama terdahulu dalam menuntut ilmu. Mereka mengembara dan menjelajah berbagai negeri untuk berguru kepada para ahli ilmu. Simaklah Imam Al-Bukhari yang menjelajah negeri demi mempelajari dan menemukan hadis untuk kemudian menelitinya. Resapilah lamanya jam belajar Imam An-Nawawi dalam sehari. Tidak kurang dari 16 jam jawabnya ketika ditanya seorang muridnya.

Maka, bila pelajar zaman now mendambakan jalan instan untuk berhasil menuntut ilmu, sungguh telah keluar dari teladan para ahli ilmu di masa lalu. Konsekuensi jalan instan biasanya menghalalkan segala cara. Sehingga, menyontek saat ujian, bahkan menyontek masal pada ujian nasional dipandang lumrah untuk sebuah kelulusan. Maka, para pelajar zaman now patut melakukan refleksi diri apakah demikian cara kita dalam menuntut ilmu?

Oleh: Muhammad Syafi’ie el-Bantanie
(Direktur Dompet Dhuafa Pendidikan, Founder Ekselensia Tahfizh School)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

shares