Belajar Konsistensi ke Sidogiri

Belajar Konsistensi ke Sidogiri

Kunjungan tim eTahfizh ke Pesantren Sidogiri menyisakan banyak kesan, hikmah dan pelajaran. Kunjungan ke Pesantren yang telah berumur hampir tiga abad dan saat ini mengelola sembilan ribu lebih santri itu memang diniatkan untuk mengambil sebanyak-banyak nya ilmu dan pelajaran.

Salah satunya soal konsistensi. Ustaz Ahmad Baihaqi, yang menemani kami berdiskusi selama hampir 1,5 jam bercerita banyak mengenai bagaimana Pesantren Sidogiri berjuang untuk tetap pada garis perjuangan nya dari awal berdiri sampai hari ini. Dan itu yang menjadi inti pesannya saat menemani tim eTahfizh.

“Saya kira perlu untuk menetapkan garis perjuangan dan pastinya setiap pesantren punya garis perjuangan masing-masing. Alhamdulillah Sidogiri konsisten di Tauhid dan syariat (fiqh). Tauhid sebagai isi hati dan otak, perilaku dibangun lewat syariat.” ungkap Baihaqi.

Ia pun menambahkan kalau pelajaran umum juga diajarkan di Sidogiri tetapi hanya sebatas pendukung dan pelengkap saja.

“Yang lain bumbu saja, pendukung untuk melengkapi kebutuhan yang dua itu. Mantiq ada, untuk melengkapi cara berfikir. Matematika ada, hanya sebatas untuk mendukung pelajaran Fiqh terutama ilmu faraidh (waris). Ushul fiqh, bahasa Arab ada semua tapi semuanya untuk mendukung yang dua itu tadi. Bahkan ilmu Falaq juga diajarkan karena berkaitan dengan hari raya, waktu afdhal dan lain-lain dalam fiqh”, jelasnya.

Ia pun menjelaskan perlunya lembaga pendidikan konsisten dalam garis perjuangan nya.

“Tidak semua pesantren jelas arahnya. Ada yang terombang ambing. Bukannya ingin mempengaruhi masyarakat tapi malah dipengaruhi oleh masyarakat”, jelasnya.

Ia pun menceritakan perjuangan Sidogiri untuk tetap istiqomah dalam garis perjuangan bukan tanpa cobaan.
Konsistensi Pesantren Sidogiri untuk tidak menerima bantuan pemerintah membuat Sidogiri dicap sombong.
Sidogiri juga tetap tidak mau mengubah periodisasi masa belajar santri dari hijriah ke Masehi agar menerima dana BOS. Bahkan Konsistensi Sidogiri dengan kurikulum sendiri dan tidak mau mengikuti kurikulum pemerintah membuatnya sempat tidak diakui pemerintah.

“Mulai tahun 1982 sampai dengan 1996 pesantren ini tidak diakui. Bahkan namanya tidak terdaftar di Depag Kabupaten. Seperti tidak ada pesantren. Padahal, orang gendeng aja tahu kalau disini ada pesantren”, ungkapnya sambil tertawa.

Tapi itu tidak menyurutkan perjuangan Pesantren Sidogiri.

“Wong disini bukan tujuannya mendapatkan ijazah, yang penting anak pintar dan pandai agama, gak dapet ijazah gak apa-apa. Kita punya prinsip bagimana mencetak orang punya ilmu agama dan mengamalkan agamanya”, kata Baihaqi.

Ia pun menambahkan yang penting tetap di jalan perjuangan dan tetap dalam prinsip.

“Nggak diakui nggak apa-apa yang penting kita tetap berjuang disini. Jadi tidak terombang-ambing oleh kebijakan pemerintah. Ada atau tidak adanya santri, kita tetap berjuang. Buktinya santri selalu ada. Karena kita punya prinsip menyebarkan agama, mempertahankan agama. Dan agama intinya di akidah dan syariah. Sidogiri konsinten di dua hal itu”, pungkasnya. [adrie]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

shares