EMAIL US AT info@etahfizh.org
CALL US NOW (+62) 85 77 9696308
DONASI

Keampuhan Seorang Guru

“Saya anak vespa, ustadz. Saya tidak mengenal agama lebih kurang 10 tahun. Tapi, Alhamdulillah sekarang saya sudah kenal Allah, saya bertobat, dan shalat lima waktu di masjid,” cerita seorang aktifis masjid yang dulunya pernah menjadi anak Vespa.

Hidayah memang datang dari Allah. Namun, ia datang lewat perantara ustadz, guru, teman, atau siapapun. Bisa juga hasil perenungan mendalam menyesali rekam jejak yang memilukan pada masa lalu. Cerita di atas adalah hidayah yang datang lewat perantara seorang juru dakwah, yang biasa dipanggil ustadz oleh masyarakat.

Sejatinya ustadz adalah seorang guru. Ia mengajak dan membimbing masyarakat menuju kebaikan. Demikianlah guru di sekolah atau madrasah membimbing para murid menuju kebaikan. Saya ingin mengajak kita semua, para guru, untuk belajar dari seorang ustadz yang telah menjadi jalan hidayah bagi anak vespa di atas.

Terkadang yang dibutuhkan oleh seorang yang sedang salah jalan adalah sentuhan hati. Bukan segudang ceramah apalagi justifikasi. Inilah yang terjadi dengan pemuda di atas. Ia menjadi sasaran dakwah seorang ustadz. Ustadz ini seringkali mendatangi tempat mangkal pemuda ini. Menyapanya, menemaninya, menjadi temannya ngobrol, dan tidak jarang mengajaknya makan. Hingga terajut ikatan emosi si pemuda kepada ustadz tersebut.

Tiba masanya ustadz ini mengajak pemuda ini hijrah. Ajaib. Pemuda ini luluh hatinya. Ia bercerita panjang lebar bahwa dalam hatinya ia ingin menjadi orang benar. Tapi, tidak tahu caranya bagaimana. Tidak ada orang yang mau menyapanya apalagi membimbingnya. Singkat cerita, pemuda ini pun bertobat dan mulai belajar Islam serta mengamalkan ajaran Islam.

Selain pendekatan personal yang dilakukan sang ustadz. Ada satu lagi senjata rahasia ustadz ini. Tak lain adalah doa di sepertiga malam saat qiyamul lail. Ustadz ini sampai secara khusus mendoakan pemuda ini dalam doa-doanya usai qiyamul lail.

“Seorang juru dakwah tanpa qiyamul lail ibarat senjata tanpa amunisi. Kosong. Tumpul,” ungkapnya pada saya sebakda shalat magrib berjamaah.

Duuuughhh. Saya seperti tertembak peluru. Kata-kata ustadz ini menyentil kesadaran saya. Benar sekali. Qiyamul lail dan doa adalah senjata ampuh para juru dakwah, termasuk guru. Dan, sejatinya ini adalah nasihat para salafus shalih.

Karena itu, mari kita merefleksi diri. Jika selama mengajar, kita mendapati anak-anak yang dianggap susah diatur, membuat jengkel, pembuat onar di kelas saat pembelajaran, maka mari kita bertanya ke dalam hati, “Sudahkah kita mendoakannya secara khusus, menyebut namanya, dalam qiyamul lail kita?”

Mungkin kita bertanya, apa sampai segitunya? Demikianlah akhlak para juru dakwah. Dan, bukankah guru itu juru dakwah? Dengan itu Allah memberikan ganjaran berlimpah-limpah bagi para guru yang mendoakan murid-muridnya pada qiyamul lailnya. Lalu, doanya menembus langit ketujuh. Berbuah hidayah dan taufik bagi para murid. Allahu akbar. Saya tidak bisa membayangkan kemuliaan yang diberikan Allah pada guru seperti ini. Hanya, seringkali kemuliaan di sisi Allah itu tak kasat mata. Ini barangkali yang membuat kita masih malas untuk menempuhnya. Wallahu a’lam…

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: