CALL US NOW 08 123 123 30 71
DONASI

Empat Nilai yang Wajib Haqers Tanamkan Pada Anak

Menanamkan nilai Alquran pada diri sendiri atau pada generasi selanjutnya bahkan kepada anak bukanlah hal yang dapat dilakukan dalam waktu singkat. Tentu membutuhkan waktu dan proses yang panjang. Nilai-nilai Alquran akan melekat pada diri kita jika kita mencintai Alquran tersebut. Jika sehari saja tidak dibaca, maka seperti ada sesuatu yang kurang. Lalu bagaimana cara mencintai Alquran itu?

Modal pertama yang harus dimiliki adalah iman. Maksudnya ialah percaya bahwa Alquran itu merupakan kitab dari Allah Swt. yang berisi petunjuk dengan segala mukjizat yang dikandung di dalamnya dan jika berpegang kepadanya maka akan selamat dunia dan akhirat. Rasa seperti inilah yang perlu ditumbuhkan terlebih dahulu dalam diri seseorang. Tentunya ini juga merupakan hidayah dari Allah Swt.

Jika rasa ini sudah tumbuh, maka nilai-nilai dari Alquran baik yang ia dengar dari ceramah atau yang ia baca langsung dapat masuk ke dalam jiwa dengan baik. Menurut Dr. Khalid Abdul Karim al-Laahim, ada lima tanda orang yang mencintai Alquran, yaitu senang bertemu dengan Alquran, tidak bosan berlama-lama dengan Alquran dalam satu majelis, ada kerinduan untuk berjumpa dengan Alquran, banyak berkonsultasi dengan Alquran, dan menaati perintah dan larangan Alquran. Jika diri kita sudah cinta dengan Alquran, maka tugas kita selanjutnya ialah menanamkan rasa cinta Alquran itu kepada anak.

Sebagai orang tua muslim, tentu menyadari betul akan pentingnya garis keturunan. Karena anak diharapkan menjadi generasi penerus perjuangan dalam menegakkan kalimat al-haqq. Di samping itu, setiap orang tua harus menyadari bahwa anak adalah pelestari pahala. Walaupun orang tuanya telah meninggal dunia, ia tetap dapat mengalirkan pahala kepada kedua orang tuanya. Begitu juga sebaliknya. Dengan demikian, jika orang tua muslim menyadari hakikat anak mereka tentu akan bangkit keinginan untuk lebih waspada terhadap pendidikan anak-anak mereka. Berikut kiat-kiat yang dapat dilakukan untuk menciptakan generasi muda agar cinta dengan Alquran.

Pertama, dimulai dengan mencari pasangan yang baik. Dalam pandangan Islam, memilih pasangan juga ikut berpengaruh dalam memprogramkan anak yang saleh. Pasangan yang baik juga tidak akan jauh dari Alquran. Pasangan yang baik akan menurunkan putera-puteri yang baik. Begitu juga sebaliknya. Karena itu, Rasulullah Saw. bersabda, “Hati-hatilah dengan Hadhra al-Diman, atau wanita cantik dari lingkungan yang tidak berpendidikan”. 

Kedua, selalu melantunkan ayat Alquran pada telinga anak. Hal ini dilakukan agar sedini mungkin anak dapat mengenal Alquran. Apabila orang tuanya sibuk atau tidak sempat membacakan Alquran di telinga anaknya, maka dapat digantikan dengan memperdengarkan ayat-ayat Alquran dari tap recorder pada anak.

Usaha ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Dr. Nurhayati terhadap bayi yang berusia 48 jam yang dikutip dari laman kompasiana.com. Bayi tersebut menunjukkan respon tersenyum dan menjadi lebih tenang setelah diperdengarkan ayat-ayat Alquran dari tape recorder.

Ketiga, memasuki masa kanak-kanak atau kisaran umur 3 tahun, anak sebaiknya sudah diajari membaca Alquran sesuai dengan kemampuannya. Lebih baik jika yang mengajarkan ini orang tuanya sendiri.

Bahkan jika orang tua sering membacanya, misalnya ketika salat membaca surah Al-Fatihah, seorang anak pun bisa hafal dengan sendirinya. Selain itu, bisa juga ditambah dengan memberi tahu makna dari surah tersebut guna menanamkan nilai-nilai ketauhidan pada diri anak. Jika nilai-nilai ketauhidn ini sudah tertanam sejak kecil, maka ia pun akan mudah meyakini keberadaan dan keagungan Alquran.

Keempat, yaitu menjadikan Alquran sebagai bahan bacaan utama anak di rumah. Setelah mengajari anak membaca Alquran dan anak sudah bisa membaca Alquran dengan baik, maka kemudian tugas selanjutnya ialah menjadikan Alquran itu sebagai bacaan wajib setiap harinya. Misalnya anak diwajibkan membaca Alquran setelah selesai salat lima waktu. Jika anak tersebut tidak mau dengan alasan malas atau sebagainya, maka harus ada hukuman dari orang tua dan hukuman inipun tentunya hukuman yang mendidik.

Berdasarkan pemaparan di atas, dapat kita lihat betapa besarnya pengaruh Alquran terhadap seseorang. Orang yang dekat dengan Alquran, dalam artian selalu membaca, menghayati, bahkan berusaha mengamalkan isinya tentu akan berbeda dengan orang yang jauh sekali dengan Alquran.

Sehingga wajib bagi kita agar selalu dekat dengan Alquran dan juga mendidik para generasi milenial agar Alquran selalu melekat dalam jiwanya demi kemajuan bangsa terutama dirinya dan terlebih lagi untuk bekal di akhirat kelak.

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: